13 & K
Hafid Andira Pratama
Hai,
perkenalkan namaku Tama. Aku bersekolah di
salah satu SMA swasta di Bekasi. Aku saat ini sudah memasuki kelas 11
SMA . Dalam satu kelas, terdiri dari 22 siswa. Kehidupanku pun tidak ada yang
berbeda dengan siswa-siwi lainnya, bermain, belajar, dan bergaul. Mengenai
pacar, ah aku sedang tidak memikirkan tentang itu. Yang terpenting ialah
belajar, setuju?
Pada
suatu hari, Bu Nining dating kelasku bersama seorang anak laki-laki yang tidak
aku kenal. Ternyata dia adalah Heri, murid baru yang berasal dari Kutai,
Kalimantan Timur. Lalu dia langsung mengikuti pelajaran. Heri tampak sangat
pendiam, kupikir mungkin karena dia masih sanag asing di lingkungan sekolah
kami, tapi biarlah, mungkin lama-kelamaan dia akan terbiasa.
Telah
dua minggu Heri berada di sekolah kami. Bisa dibilang dia hampir tidak pernah
ngobrol dengan siswa lain. Hal aneh lainnya, dia selalu membawa kamera kuno
keluaran tahun 1970-an. Padahal penampilannya cukup modis dibandingkan
anak-anak yang lain. Sesekali aku bertanya, “Ri, kok lo bawa kamera jadul gitu
sih?”, dia hanya menjawab, “Saya menyukai kamera ini.”, dia menjawab dengan
ekspresi yang datar. Lama-lama aku menjadi merrasa ganjil dengannya. Aku juga
sering berbincang dengan Mala temanku, “Mal, lo ngersa aneh ga ama Heri?”,”banget
Tam, gua mati gaya duduk ama dia, ngomong engga, gua ajak ngomong, dia jawabnya
ga enak gitu, ah bingung gua ama tuh anak, mana tiap hari bawa kamera jadul
gituan lagi”.”gua juga ngerasa gitu Mal, aneh tuh anak.”
Sebulan
setelah Heri hadir, kejadian aneh mulai datang di kelas kami. Cindy meninggal
secara misterius. Empat hari kemudian Edo meninggal juga dengan sangat
misterius. Satu persatu dari kamu ditemukan tak bernyawa dengan cara yang tak
wajar, sangat mendadak, dan misterius. Rentang waktunya pun tidak lama. Hingga
akhirnya 11 siswa telah hilang dri kelas kami. Hingga yang terbaru ialah Anggi
yang meninggal di ddekat wartel sekolah. Dan setiap ada yang meninggal di
sekolah kami, aku selalu melihat ada bapak tua dengan kemeja hitam dan celana
panjang hitam, berdiri kaku menatap pagar sekolaku pada saat jam pulang
sekolah. Pertanyaan demi pertanyaan sering terlintas di benakku. Mengapa ini
semua terjadi dengan tak wajar?
Pagi
itu, Mala memberikan dugaanya yang sangat mengejutkanku, “Tam, emm..mungkin
nggga kalo kameranya Heri yang jadi penyebabnya slama ini?”, aku pun belum
percaya dengannya, “hah?masak kamera butut itu? Jangan bercanda loe!”, “Ya kan
kali aja, gua juga belum tau. Lo mau ga ntar kita ngikutin Heri ampe
rumahnya?”, “Oke ga papa ntar, gua juga mau tahu apa bener kamera butut itu
yang jadi tersangkanya.”, “Oke, gua tunggu lo ya ntar di depan gerbang.”, “Oke,
Mal.”
Saatnya
pulang, sesuai janjiku, aku dan Mala akan mengikuti Heri sampai rumahnya.
Setelah kami menunggu Heri, akhirnya dia dating dan langsung melewati kami
dengan tatapan kosong. Kami sedikit manjaga jarak sekitar 15 m dari
belakangnya. Kami terus berjalan mengikutinya, hingga kami pun tidak sadar
sudah empat setengah jam mengikutinya. Cuaca sangat panas saat itu, tetapi rasa
penasaran kami mengalahkan semuanya. Hingga pada akhirnya Heri berhenti, dia
mengambil kameranya dari tasnya. Kameranya mengarah pada seorang preman yang
sedang berdiri di dekat pangkalan ojek. Dia memfotonya, dan seketika preman
tadi jatuh tak berdaya. Kami pun kaget atas apa yang terjadi. Heri kembali
memsukkan kameranya ke dalam tasnya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Kami
berdua tidak lagi mengikutinya. “Tam, besuk kita harus mencuri kamerenya. “Iya
Mal, kalo bisa, kita bakar sekalian.”, “Oke, sampai ketemu besuk ya.” “Oke
oke.”
Pada
saat aku akan sampai di rumah, tiba-tiba bapak misterius itu berbicara
kepadaku, “Berhati-hatilah, anak baru itu tidak salah, kamera itu bergerak
sendiri. Saat ini 12 korban telah tewas. Saat ia telah mamakan 13 korban, dia
akan berpindah ke tempat lain dan mencari korban lagi.”. Aku memejamkan mata
beberapa detik, “Dari mana bapak bisa ……”, bapak tadi menghilang. Bulu kudukku
seketika berdiri. Aku mempercepat langkahku menuju rumah.
Keesokan
harinya di sekolah, aku tidak sabar untuk menunggu bel istirahat berbunyi.
Akhirnya waktu istirahat dimulai. Semua siswa keluar dari kelas, kecuali aku.
Aku segera mengambil kamera itu dari tas Heri, dan memasukkannya ke dalam
tasku. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas menuju halaman belakang.
Aku mengamil kamera itu, sepintas itu hanyalah kamera kuno biasa. Tidak ada
yang aneh dari fisiknya. Tiba-tiba, suar Mala mengagetkanku.
Jari
telunjukku yang tadi memegang tombol capture tidak sengaja memencet tombol itu.
Aku memfoto diriku sendiri. Tubuhku dengan lemas jatuh ke lantai, dan
menghembuskan nafas terakhir. Aku menjadi korban ke-13 gara-gara kamera itu,
Dengan begitu, kamera misterius itu tidak akan mencari korban lagi di
lingkungan kami. Kamera itupun tidak bisa ditemukan lagi di sini. Heri pun
tidak lagi sekolah di sekolah kami. Yang jelas, kamera itu sudah berpindah
tangan ke orang lain, dan akan kembali memangsa 13 korban lainnya.
-------- SELESAI
--------
0 komentar:
Post a Comment