Sunday, March 4, 2012 | By: KPD's Blog

13 & K

13 & K

Hafid Andira Pratama


Hai, perkenalkan namaku Tama. Aku bersekolah di  salah satu SMA swasta di Bekasi. Aku saat ini sudah memasuki kelas 11 SMA . Dalam satu kelas, terdiri dari 22 siswa. Kehidupanku pun tidak ada yang berbeda dengan siswa-siwi lainnya, bermain, belajar, dan bergaul. Mengenai pacar, ah aku sedang tidak memikirkan tentang itu. Yang terpenting ialah belajar, setuju?
Pada suatu hari, Bu Nining dating kelasku bersama seorang anak laki-laki yang tidak aku kenal. Ternyata dia adalah Heri, murid baru yang berasal dari Kutai, Kalimantan Timur. Lalu dia langsung mengikuti pelajaran. Heri tampak sangat pendiam, kupikir mungkin karena dia masih sanag asing di lingkungan sekolah kami, tapi biarlah, mungkin lama-kelamaan dia akan terbiasa.
Telah dua minggu Heri berada di sekolah kami. Bisa dibilang dia hampir tidak pernah ngobrol dengan siswa lain. Hal aneh lainnya, dia selalu membawa kamera kuno keluaran tahun 1970-an. Padahal penampilannya cukup modis dibandingkan anak-anak yang lain. Sesekali aku bertanya, “Ri, kok lo bawa kamera jadul gitu sih?”, dia hanya menjawab, “Saya menyukai kamera ini.”, dia menjawab dengan ekspresi yang datar. Lama-lama aku menjadi merrasa ganjil dengannya. Aku juga sering berbincang dengan Mala temanku, “Mal, lo ngersa aneh ga ama Heri?”,”banget Tam, gua mati gaya duduk ama dia, ngomong engga, gua ajak ngomong, dia jawabnya ga enak gitu, ah bingung gua ama tuh anak, mana tiap hari bawa kamera jadul gituan lagi”.”gua juga ngerasa gitu Mal, aneh tuh anak.”
Sebulan setelah Heri hadir, kejadian aneh mulai datang di kelas kami. Cindy meninggal secara misterius. Empat hari kemudian Edo meninggal juga dengan sangat misterius. Satu persatu dari kamu ditemukan tak bernyawa dengan cara yang tak wajar, sangat mendadak, dan misterius. Rentang waktunya pun tidak lama. Hingga akhirnya 11 siswa telah hilang dri kelas kami. Hingga yang terbaru ialah Anggi yang meninggal di ddekat wartel sekolah. Dan setiap ada yang meninggal di sekolah kami, aku selalu melihat ada bapak tua dengan kemeja hitam dan celana panjang hitam, berdiri kaku menatap pagar sekolaku pada saat jam pulang sekolah. Pertanyaan demi pertanyaan sering terlintas di benakku. Mengapa ini semua terjadi dengan tak wajar?
Pagi itu, Mala memberikan dugaanya yang sangat mengejutkanku, “Tam, emm..mungkin nggga kalo kameranya Heri yang jadi penyebabnya slama ini?”, aku pun belum percaya dengannya, “hah?masak kamera butut itu? Jangan bercanda loe!”, “Ya kan kali aja, gua juga belum tau. Lo mau ga ntar kita ngikutin Heri ampe rumahnya?”, “Oke ga papa ntar, gua juga mau tahu apa bener kamera butut itu yang jadi tersangkanya.”, “Oke, gua tunggu lo ya ntar di depan gerbang.”, “Oke, Mal.”
Saatnya pulang, sesuai janjiku, aku dan Mala akan mengikuti Heri sampai rumahnya. Setelah kami menunggu Heri, akhirnya dia dating dan langsung melewati kami dengan tatapan kosong. Kami sedikit manjaga jarak sekitar 15 m dari belakangnya. Kami terus berjalan mengikutinya, hingga kami pun tidak sadar sudah empat setengah jam mengikutinya. Cuaca sangat panas saat itu, tetapi rasa penasaran kami mengalahkan semuanya. Hingga pada akhirnya Heri berhenti, dia mengambil kameranya dari tasnya. Kameranya mengarah pada seorang preman yang sedang berdiri di dekat pangkalan ojek. Dia memfotonya, dan seketika preman tadi jatuh tak berdaya. Kami pun kaget atas apa yang terjadi. Heri kembali memsukkan kameranya ke dalam tasnya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Kami berdua tidak lagi mengikutinya. “Tam, besuk kita harus mencuri kamerenya. “Iya Mal, kalo bisa, kita bakar sekalian.”, “Oke, sampai ketemu besuk ya.” “Oke oke.”
Pada saat aku akan sampai di rumah, tiba-tiba bapak misterius itu berbicara kepadaku, “Berhati-hatilah, anak baru itu tidak salah, kamera itu bergerak sendiri. Saat ini 12 korban telah tewas. Saat ia telah mamakan 13 korban, dia akan berpindah ke tempat lain dan mencari korban lagi.”. Aku memejamkan mata beberapa detik, “Dari mana bapak bisa ……”, bapak tadi menghilang. Bulu kudukku seketika berdiri. Aku mempercepat langkahku menuju rumah.
Keesokan harinya di sekolah, aku tidak sabar untuk menunggu bel istirahat berbunyi. Akhirnya waktu istirahat dimulai. Semua siswa keluar dari kelas, kecuali aku. Aku segera mengambil kamera itu dari tas Heri, dan memasukkannya ke dalam tasku. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas menuju halaman belakang. Aku mengamil kamera itu, sepintas itu hanyalah kamera kuno biasa. Tidak ada yang aneh dari fisiknya. Tiba-tiba, suar Mala mengagetkanku.
Jari telunjukku yang tadi memegang tombol capture tidak sengaja memencet tombol itu. Aku memfoto diriku sendiri. Tubuhku dengan lemas jatuh ke lantai, dan menghembuskan nafas terakhir. Aku menjadi korban ke-13 gara-gara kamera itu, Dengan begitu, kamera misterius itu tidak akan mencari korban lagi di lingkungan kami. Kamera itupun tidak bisa ditemukan lagi di sini. Heri pun tidak lagi sekolah di sekolah kami. Yang jelas, kamera itu sudah berpindah tangan ke orang lain, dan akan kembali memangsa 13 korban lainnya.


-------- SELESAI --------


0 komentar:

Post a Comment